Bersyukurlah atas segala curahan nikmat Allah yang tak pernah
berhenti dan tak pernah bisa dihitung. Tanam dan lipatgandakan kesabaran
atas segala ujian dan kesulitan yang kita alami.
Saudaraku,
Syukur dan sabar, dua senjata paling ampuh dalam mengarungi gelombang hidup. Gelombang hidup yang selalu menguji ketangguhan iman. Gelombang hidup yang tak selalu sama antara harapan dan kenyataan. Syukuri segala karunia, kenikmatan, kemudahan, kesehatan, kelapangan dari Allah Yang Maha Pemberi Rah-mat. Sabar terhadap segala kepahitan, kesulitan, kesempitan, dan keadaan yang tidak sesuai dengan harapan. Menurut Rasulullah saw, syukur dan sabarlah yang akan menjadikan keadaan apapun menjadi baik. “Dan dua sikap itu, tidak akan terjadi kecuali pada diri orang yang beriman," ujar Rasulullah saw.
Syukur dan sabar, dua senjata paling ampuh dalam mengarungi gelombang hidup. Gelombang hidup yang selalu menguji ketangguhan iman. Gelombang hidup yang tak selalu sama antara harapan dan kenyataan. Syukuri segala karunia, kenikmatan, kemudahan, kesehatan, kelapangan dari Allah Yang Maha Pemberi Rah-mat. Sabar terhadap segala kepahitan, kesulitan, kesempitan, dan keadaan yang tidak sesuai dengan harapan. Menurut Rasulullah saw, syukur dan sabarlah yang akan menjadikan keadaan apapun menjadi baik. “Dan dua sikap itu, tidak akan terjadi kecuali pada diri orang yang beriman," ujar Rasulullah saw.
Saudaraku, semoga rahmat Allah senantiasa tercurah pada kita semua…
Kita semua, punya kesempatan sama. Allah merengkuh semua makhluk-Nya dengan ke Maha Luasan Rahmat-Nya yang tak terbatas. Di hadapan kita semua, juga terbentang alternatif yang sama. Kita, dipersilahkan memilih satu di antara dua jalan. Kitalah yang memilihnya, antara jalan fujur (dosa) atau jalan yang mengarah pada takwa, Tak pernah ada keadaan yang memaksa kita melakukan kesalahan, Tak pernah ada juga kondisi yang memaksa kita melakukan kebaikan, Semuanya berpulang pada diri kita sendiri.
Kita semua, punya kesempatan sama. Allah merengkuh semua makhluk-Nya dengan ke Maha Luasan Rahmat-Nya yang tak terbatas. Di hadapan kita semua, juga terbentang alternatif yang sama. Kita, dipersilahkan memilih satu di antara dua jalan. Kitalah yang memilihnya, antara jalan fujur (dosa) atau jalan yang mengarah pada takwa, Tak pernah ada keadaan yang memaksa kita melakukan kesalahan, Tak pernah ada juga kondisi yang memaksa kita melakukan kebaikan, Semuanya berpulang pada diri kita sendiri.
Saudaraku, merenunglah sejenak.
Mungkin kita tahu, sebuah keadaan yang akan mengarahkan kita pada bahaya. Kita juga mungkin tahu, rambu jalan yang akan mengajak kita pada sebuah kesalahan. Tahu, bahwa seandainya jalan itu yang kita tempuh maka hulunya adalah dosa. Tapi, sekadar tahu, tidak menjadikan seseorang memiliki kualitas amal yang lebih baik. Sekadar tahu memang tak menjadi syarat kebaikan seseorang. Ilmu pengetahuan seseorang tentang kebaikan, tentang kebenaran, tentang agama, tidak selalu menjadikannya pasti mendapatkan hidayah.
Mungkin kita tahu, sebuah keadaan yang akan mengarahkan kita pada bahaya. Kita juga mungkin tahu, rambu jalan yang akan mengajak kita pada sebuah kesalahan. Tahu, bahwa seandainya jalan itu yang kita tempuh maka hulunya adalah dosa. Tapi, sekadar tahu, tidak menjadikan seseorang memiliki kualitas amal yang lebih baik. Sekadar tahu memang tak menjadi syarat kebaikan seseorang. Ilmu pengetahuan seseorang tentang kebaikan, tentang kebenaran, tentang agama, tidak selalu menjadikannya pasti mendapatkan hidayah.
Ini bukan penghinaan pada ilmu. Karena ilmu
pengetahuan, tetap menjadi pilar penting yang menentukan amal seseorang.
Tanpa pengetahuan, amal akan sia-sia. Bukan sampai di situ, tanpa ilmu
suatu amal bisa memberi mu dharat dan bahaya. Ilmu juga yang menjadikan
seseorang lebih mudah menangkap sinyal hidayah. Kemudian membimbing
seseorang untuk melakukan kebaikan. Artinya, ilmu pengetahuan memang
penting untuk siapapun.
Tapi ilmu tidak menjadi jaminan seseorang menjadi
shalih. Ilmu pengetahuan tak pernah menjadi taruhan bahwa seseorang akan
menjalani kehidupan ini dengan baik dan mendapat kebahagiaan di
akhirat. Para ulama kerap menyebut istilah kekeliruan orang orang
berilmu itu dengan istilah zallatul ‘alim. Dengarkanlah
perkataan Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, “Sebuah jaman akan dirusak
oleh tiga hal, para pemimpin yang sesat, perdebatan mengenai Al Qur’an
dan zallatul ‘alim (terpelesetnya seorang ‘alim).”
Karenanya para salafus shalih tetap menekankan
kewaspadaan dan kehati-hatian terhadap perkataan seorang ‘alim. Muadz
bin Jabal ra juga pernah mengatakan, “Hati-hatilah kalian dengan
kekeliruan seorang ‘alim, karena syaitan bisa saja mengatakan kesesatan
rnelalui lisan seorang alim. Sementara di sisi lain, bisa saja seorang
munafik mengatakan kalimat yang hak. Ambillah yang hak itu dari mana
saja datangnya. Karena dalam kebenaran itu terdapat cahaya. (Musafir fi
Qithari Da’wah).
Saudaraku,
Para ahli ilmu, para ulama, tetap saja para manusia yang sama seperti kita. Dan mereka – sebagaimana kita- juga manusia yang tentu memiliki kekurangan dan kesalahan. Bayang-kanlah perkataan seorang tabi’in yang sangat memperhatikan dan meniru dua ulama besar di jamannya, Hasan Al-Bashri dan Ibnu Sirin. Suatu ketika ia berpesan pada anaknya, “Anak-ku, tirulah kebaikan Hasan Al-Bashri dan Ibnu Sirin. Jangan kau tiru keburukannya, Jika engkau mengetahui keburukan yang ada pada diri Hasan Al-Bashri, dan keburukan yang ada pada Ibnu Sirin, niscaya engkau menghimpun semua keburukan."
Para ahli ilmu, para ulama, tetap saja para manusia yang sama seperti kita. Dan mereka – sebagaimana kita- juga manusia yang tentu memiliki kekurangan dan kesalahan. Bayang-kanlah perkataan seorang tabi’in yang sangat memperhatikan dan meniru dua ulama besar di jamannya, Hasan Al-Bashri dan Ibnu Sirin. Suatu ketika ia berpesan pada anaknya, “Anak-ku, tirulah kebaikan Hasan Al-Bashri dan Ibnu Sirin. Jangan kau tiru keburukannya, Jika engkau mengetahui keburukan yang ada pada diri Hasan Al-Bashri, dan keburukan yang ada pada Ibnu Sirin, niscaya engkau menghimpun semua keburukan."
Saudaraku,
Kapasitas dan kedudukan ilmu seseorang tak bisa disejajarkan dengan orang awam dalam
perilaku dosa dan kesalahan. Dosa yang dilakukan orang yang berilmu, bahkan bisa lebih berbahaya ketimbang orang yang tak memiliki ilmu. Menurut Imam Al Ghazali, "Dosa seorang alim bisa saja kecil tapi bahayanya bisa menjadi besar. Dosa seorang ‘alim tidak terputus sampai ia wafat. Alasannya jelas, karena kesalahan orang yang telah mengetahui kebaikan dan keburukan, akan menjadi inspirasi yang tidak baik bagi orang awam dalam kurun beberapa lama." Karenanya, Imam Al-Ghazali melanjutkan, "Beruntunglah orang yang dosa-dosanya terhenti bersamanya saat ia meninggal dunia." (Muwafaqat, Syatibi, 4/169)
Kapasitas dan kedudukan ilmu seseorang tak bisa disejajarkan dengan orang awam dalam
perilaku dosa dan kesalahan. Dosa yang dilakukan orang yang berilmu, bahkan bisa lebih berbahaya ketimbang orang yang tak memiliki ilmu. Menurut Imam Al Ghazali, "Dosa seorang alim bisa saja kecil tapi bahayanya bisa menjadi besar. Dosa seorang ‘alim tidak terputus sampai ia wafat. Alasannya jelas, karena kesalahan orang yang telah mengetahui kebaikan dan keburukan, akan menjadi inspirasi yang tidak baik bagi orang awam dalam kurun beberapa lama." Karenanya, Imam Al-Ghazali melanjutkan, "Beruntunglah orang yang dosa-dosanya terhenti bersamanya saat ia meninggal dunia." (Muwafaqat, Syatibi, 4/169)
Bersyukurlah jika kita termasuk orang yang
dikaruniai pengetahuan tentang kebaikan. Bersyukurlah jika kita
dibimbing oleh Allah untuk mengenal rambu-rambu kebaikan dan kesalahan.
Bersyukurlah jika kita, dengan segala keterbatasan, dimasukkan dalam
kelompok orang-orang yang lebih mengenal tuntunan Islam ketimbang orang
yang lain. Orang berilmu tak selalu dimiliki dari mereka yang
berpredikat ulama. Sedikit maupun banyaknya ilmu yang kita miliki, harus
benar-benar mampu mengiringi setiap kita menentukan langkah dalam
hidup. Ilmu adalah amanah. Dia juga pelita yang sesungguhnya sangat
mampu untuk menerangi jalan mencapai hidayah Allah. Tapi tanpa kesadaran
dan kewaspadaan yang cukup, ilmu akan bisa menjerumuskan seseorang pada
kedalaman lembah dosa yang lebih jauh daripada orang yang tak memiliki
ilmu.
Saudaraku,
Camkanlah perkataan Sofyan At Tsauri, "Setiap makhluk Allah yang melakukan dosa adalah bodoh. Baik ia berilmu atau tidak berilmu. Jika ia berilmu, siapa yang lebih bodoh darinya? Dan jika ia tidak berilmu maka karena itulah ia berbuat dosa…"
Camkanlah perkataan Sofyan At Tsauri, "Setiap makhluk Allah yang melakukan dosa adalah bodoh. Baik ia berilmu atau tidak berilmu. Jika ia berilmu, siapa yang lebih bodoh darinya? Dan jika ia tidak berilmu maka karena itulah ia berbuat dosa…"
Semoga kita termasuk dalam kelompok hamba-hamba Allah yang disabdakan Rasulullah SAW, “Man yuridillahu bihi khairan yufaqihhu fid diin…”Artinya, Barangsiapa yang Allah kehendaki baik, maka akan Allah berikan padanya pemahaman agama." Wallahu’alam
MY....
SELAMAT DATANG
Perkenalkan nama saya Firmannullah Nurdiansyah, Saya disini ingin Menawarkan Jasa Konveksi Jaket
Antara Lain.....
- Jaket Gunug
- Jaket Comunitas
- Jaket Organisasi
- Jaket Club Motor
- Any More
MODEL JAKET YANG KAMI TAWARKAN
Jaket Berwarna Oren Hitam
Bahan Taslan
Anti Air Super
Size S.M.L.XL.XXL
Bahan Taslan
Anti Air Super
Size S.M.L.XL.XXL
RP. 250.000,- /Pcs
Minimal Bisa Untuk Peroranan
Jaket Berwarna Merah Abu-Abu
Bahan Taslan
Anti Air Biasa
Size S.M.L.XL.XXL
Anti Air Biasa
Size S.M.L.XL.XXL
RP.250.000,- /Pcs
MInimal 12 Pasang Jaket
Untuk Waktu Pemesanan : 3 Minggu Untuk Perorangan
1 s/d 2 Bulan Untuk Per 12 Pasang Jaket
Untuk Pengiriman barang Kami Melalui :
PEMBAYARAN MELALUI REKENING :







Tidak ada komentar:
Posting Komentar